Jum'at, 30 Juli 2010
 
Hot Exclusive

Gaya Berbeda, Jinx Coba Ramaikan Perfilman Indonesia

Wawancara

wahyu

 Perkembangan dunia perfilman Indonesia terus memperlihatkan geliatnya. Bahkan saat ini, semakin banyak rumah produksi yang berlomba untuk menghasilkan karya yang baik. Meski banyak juga beredar film-film tak bermutu dan hanya menampilkan sisi keindahan tubuh wanita, tetapi ada juga yang muncul dengan membawa sebuah idealisme yang berbeda dalam industry komersil perfilman Indonesia. Berikut cuplikan wawancara antara Indonesiaselebriti.com, dengan sutradara film Jinx yang diwakili oleh oleh Asisten Sutradara, Agus Pestol:


IS : Apakah film Jinx ini sebagai film layar lebar pertama?
AP :Ya ini adalah film layar lebar pertama, biasanya kita buat untuk film-film televise atau FTV, di Bali pun kita buat untuk stasiun lokal disana. Sebelum layar lebar ini ada dua judul yang telah digarap oleh sutradara yang pertama ‘Jakarta, Cinta dan Cita-cita’ yang sudah tayang di ANTV, dan yang kedua adalah ‘Cinta dan Paris Van Java’ belum tayang.

IS : Kira-kira kapan film ‘Cinta dan Paris Van Java ini tayang?
AP: Saya rasa kita nggak tayang, Karena lewat vcd, dan kita juga nggak angkat kelayar lebar.

IS : Balik ke film Jinx, kapan film ini tayang dan bagaimana latar belakang film ini?
AP: Film Jinx ini bercerita tentang action, drama dan komedi, kita campur dan kita kemas dengan sajian film Indonsia yang berbeda dari yang ada, dan ini merupakan film yang bergaya baru.

IS: Apa sih latar belakang mengambil judul Jinx yang di Indonesia ini kurang familiar didengar masyarakat?
AP: Jinx ini merupakan sebuah ide cerita yang muncul dari otaknya pak Yusuf, dalam film ‘Cinta dan Paris Van Java’ menurut dia ada satu pemain yang sering bikin sial. Ada satu perempuan dengan karakter yang berbeda. Nah, fenomena itulah yang menjadikan ide awal dalam film ‘Jinx’ ini.

IS: Bagaimana sih prosesnya hingga film ini bisa disetujui oleh pihak produser?
AP: Mungkin kalau bagi pak Yusuf nggak ada kendalanya yah, karena dalam hal ini pak Yusuf juga menjabat sebagai direktur di rumah produksi Skyler dan D’Colour.

IS: Bagaimana dengan lokasi syuting yang dipergunakan dan berapa lama waktu yang dihabiskan untuk produksi film ini?
AP: Lokasi yang kita pakai itu sampai 31 lokasi, di Jakarta, dan rata-rata kita syuting dijalanan. Sedangkan untuk scene Indoor Cuma sedikit, didaerah Setiabudi, Benhil, Kemang, Bambu Apus, hingga Hotel Indonesia, Sudirman. Total syuting kita memakan waktu 31 hari, dan itupun mundur dari schedule awal. Karena dijadwalnya kita berniat syuting itu dalam waktu 24 hari.

IS: Apa sih yang membedakan film Jinx ini dengan film-film Indonesia yang lainnya?
AP: Penyajiannya, cara penyajian itu maksudnya dengan pengadegan. Dalam film ini pengadeganan yang dibuat pak Yusuf ini beda sekali dengan film-film yang sudah ada. Dan saya bisa menyebutnya hal ini sesuatu yang baru dalam perfilman Indonesia.

IS: Hal baru seperti apa sih yang hendak ditampilkan oleh sutradara?
AP: Awal saya lihat semuanya hamper 97 persen menggunakan tehnik handhel, semua kamera digoyang dan jarang ada gambar fix. Dan cerita kita juga bolak balik berbeda alur dengan yang lainnya. Awalnya bisa ditaruh dibelakang, dibelakang ditaruh depan dan yang lainnya ditaruh ditengah.

IS : Apakah nantinya permainan alur ini seperti film ‘Ruma Maida’?
AP: Kalau ‘Ruma Maida’ mungkin ada flashback, tapi kalau ini hari itu juga. Karena Jinx ini bercerita dalam satu hari. Bisa adegan awal kita taruh dibelakang dan yang belakang bisa taruh didepan, tapi kita dibantu dengan narasi.

IS: Jadi lebih kemana sih genre dalam film ini, dengan adanya unsure drama, action, dan komedi?
AP: Kita ada lebih drama karena film ini menceritakan tentang drama. Sedangkan pesan dalam film ini adalah kita nggak perlu pacaran deh, langsung nikah saja, itulah problem yang dialami oleh tokoh Santi, dimana Santi disuruh bapaknya untuk memutuskan Jono dan tak boleh pacaran, dan Santi harus menikah saja langsung.

 IS: Apakah nantinya pada dasarnya film ini bergenre drama?
AP: Pada dasarnya drama tapi kita kemas dengan gaya pengambilan gambar action, dan kita sisipi degan komedi gelap, dimana komedi ini bukan komedi langsung yang membuat orang tertawa, tapi lebih karena situasi sehingga orang tertawa. Jadi bukan komedi yang dibuat-buat.

IS: Bagaimana sih market dari film Jinx ini dan bagaimana prediksinya sih diterima dipasar?
AP: Mungkin kita kembali ke gayanya pak Yusuf yah, karena saya lihat dia juga sedikit idealis. Karena judul dan ide semuanya keluar dari dia. Semua film yang digarap dari otak dia semua, hingga judul. Sementara target audience itu dari SMP sampai orang tua. Karena orang tua bisa melihat ini, karena adanya pemain-pemain seperti Him Damsyik, dan ujungnya juga ia tidak cari market yang memaksa orang harus menonton film ini.

IS: Bagaimana dengan Jinx melihat saingan dari film-film Indonesia yang akan keluar pada bulan Februari mendatang?
AP: Mungkin saingan ini masih bercerita tentang misteri, dan orang pun semakin tertarik dengan misteri-misteri tersebut. Kalau kita sih, kita serahkan kepada penonton saja, dari promosi yang kita lakukan juga.

IS: Bagaimana tentang alasan Jinx ini berani tampil dilayar lebar ditengah film-film hot yang beredar?
AP: Karena saya juga pernah dengar dialog ini dengan pak Yusuf. Kenapa dia ingin bikin film layar lebar dengan judul Jinx? Ada satu alasan dia, ketika orang-orang berjalan kekanan, ia malah jalan kekiri. Dia coba untuk melawan arus, sehingga ia munculkan Jinx ini, dan saya juga berpendapat Jinx ini memang punya gaya baru diperfilman Indonesia. Film-film lain belum pernah ditampilkan seperti film Jinx ini.

IS : Pesan moral apa saja sih yang ada dalam film ini?
AP: Ada sih beberapa yang mungkin nggak secara langsung disampaikan. Tapi kalau yang terselebung itu ada dalam dialog-dialog yang kita bikin, ada tentang anggota DPR, ada juga menyinggung  antara penjahat dan polisi kelakukan seperti apa?

IS: Bagaimana Penggambaran dalam film ini tentang penjahat dan polisi?
AP: Kalau dalam Jinx ini malah kita tuker, bukan semua karakter. Ada satu sisi baik polisi kita tukar dan kita masukin ke penjahat, dan sisi buruk penjahat kita masukin ke Polisi. Jadi ada beberapa adegan yang kita buat sama pak Yusuf, dimana penjahat itu sedang dikejar sama reserse dan pejahat itu berhenti dan istirahat minum, dia habis minum bayar, walaupun hanya Rp 2.000, dan dia pencopet dan sangar. Sedangkan serse Sugeng sendiri sebagai intel polisi yang mungkin bisa dibilang ceroboh dan memiliki obsesi untuk naik pangkat selalu lupa untuk bayar. Dari naik angkot, ojek hingga minum jadi lebih menggambarkan realitas yang terjadi di masyarakat.

IS: Bagaimana dengan ijin dari LSF, apakah film ini sudah lolos dari badan sensor tersebut?
AP: hal itu belum keluar, karena kita juga sedang melakukan revisi sedikit pada hari ini. Dan nanti malam ini deadline dan langsung dilempar ke sana. Kalau soal triller sudah keluar dan lolos dari LSF.

IS: Pada triler apakah terkena potongan-potongan sensor?
AP: Kalau ditriler kita nggak ngalami hal itu, karena kita bermain dengan sopan, nggak ada adegan-adegan yang kita anggap buka-bukaan atau dibilang sadis. Memang disini ada action tapi adegan tersebut nggak sadis. Kita menggambarkan action dengan sesuatu yang lain.

IS : Bagaimana sih proyeksi kedepan film Jinx ini dibioskop?
AP: kalau buat Jinx ini, pak Yusuf hanya bilang, kita mau buat film dilempar aja dulu ke pasar, dia mau lihat, jadi dia belum bisa prediksi ke depannya gimana, dan mungkin film ini akan menjadi iconix buat film-film yang mungkin akan mengikuti gaya-gaya seperti Jinx. Kalau soal indie mungkin ada gaya tersendiri yang seperti film indie dalam hal pengambilan gambarnya.

IS: Bagaimana dengan harapan ke depan soal film Jinx ini?
AP: harapan sih pengin sebanyak-banyaknya orang yang mau nonton Jinx, jadi kita nggak bisa sebut angka karena banyak deh, itu sih harapan kita dan film ini diterima dengan gaya seperti itu.

Galeri Foto

Lagi Loading gambar. Tunggu Sebentar

◄ Kembali ◄                 Print                 Kirim Artikel


Isi Komentar Anda
User Name
Password
Komentar
Mak [600] Karakter
Register | Forgot Your Password?

 
Arsip           
 
Situs Resmi
 
Lainnya     
Biografi Seleb
 
Lainnya     
© 2009 Sarana Selebritisatu Netrada. Designed by Webindo