Jum'at, 12 Maret 2010
 
Hot Exclusive

Twenty First Night Optimis Bisa Bersaing di Dunia Musik

Wawancara

Alit Bagus Ariyadi

Beranggotakan Yogie (Vocal/ Acoustic Guitar), Aryo (Drum), Joey (Bass), Viky (Guitar), dan Kido (Keyboard). Terbentuk pada tanggal 21 September 2004, talenta-talenta muda usia ini sepakat menggunakan nama Twenty First Night sebagai payung bermusik mereka. Nama yang untuk orang awam memang agak sulit untuk dilafalkan, namun cukup catchy. Karir bermusik mereka dimulai dengan banyak tampil di acara-acara prom dan panggung sekolahan atau pensi-pensi. Berbagai acara ‘Tribute’ juga pernah mereka jalani sebagai proses mengasah diri. Beberapa prestasi dalam Band Festival juga pernah diraih, sampai kepada ‘The Access – Road to Soundrenaline 2006’, sebuah acara yang dibuat untuk memberi kesempatan kepada musisi-musisi baru untuk dapat ikut ambil bagian dalam salah satu event musik terbesar di Indonesia. Layaknya ujian, mereka menjadi yang terbaik menyisihkan ratusan band dan berhak tampil di panggung utama Soundrenaline 2006, bersanding bersama musisi-musisi papan atas Indonesia.


Twenty First Night menawarkan musik Pop dengan sentuhan R&B, Soul, Funk bahkan Jazz, sesuai dengan kegemaran mereka mendengarkan John Mayer, Duncan Sheik, Earth, Wind & Fire, D’Sound, Dave Mathews Band, Tower of Power, Maxwell dan Musiq Soulchild. Seakan tidak mau dibenturkan dengan genre musik tertentu, Twenty First Night mengajak pendengar dan penikmat musik untuk larut ke dalam lyric, melodi ditambah dengan LIVE performance, yang menjadi salah satu kekuatan mereka.


Gaya 'indie' tidak mengurangi keseriusan Twenty First Night dalam bermusik. Disela-sela kesibukan mereka untuk menggarap materi album perdana mereka yang di produseri oleh Widi Maliq&d’essentials. Twenty First Night yang bernaung di bawah The One management mecoba mewarnai blantika musik Indonesia lewat materi yang telah dipersiapkan dengan matang. Twenty First Night juga  sudah meraba dunia digital dengan bergabung di Digital Beat Store. Di tengah-tengah industri musik Indonesia yang 'mainstream', rasanya spirit yang ditawarkan oleh Twenty First Night bisa jadi rasa baru, bisa jadi idola baru.


IS : halo apa kabar? Ceritain dong sekarang kegiatannya lagi apa saja?

TFN : Sekarang sedang mempersiapkan penampilan di Java Jazz 2009, event di Malaysia di akhir Maret, dan sedang mempersiapkan soundtrack layar lebar yang di sutradarai oleh Hanung Bramantyo, serta promo single kedua.

IS : Bagaimana awalnya terbentuknya band ini?

TFN : Kita terbentuk 21 September 2004, sebagian besar personil kita adalah teman satu komplek, berawal dari situ kita membuat band.

IS : Kenapa nama band ini Twenty First Night?

TFN : Kita ambil dari sebuah lirik dari band luar negeri, kita ambil dua lirik awalnya Twenty First Night, kami merasa kata tersebut sangat unik dan gampang diingat.

IS : Genre band ini apa sih?

TFN : Kita menyebutnya genre kita organik, karena kita dapat referensi dari berbagai jenis aliran musik, tapi basiknya tetap pop.

IS : Apa hubungannya Twenty First Night dan Maliq n d'essentials?

TFN : Maliq punya label rekaman sendiri yang disebut Organic Record, jadi Twenty First Night ini artis pertamanya dari label recordnya Maliq, dan One Management.

IS : Ada kekhawatiran nggak klo Twenty First Night mendompleng ketenaran Maliq?

TFN : Sama sekali nggak, secara kasarnya kalo kita nggak laku Maliq juga rugi, saat kita launcingpun masyarakat menganggap kita band yang baru bukan dengan embel-embel Maliq.

IS : Ada kemiripan tidak, antara Twenty First Night dengan Maliq and d’essential?

TFN : Awalnya ada kemiripan karena produser kita adalah Widi yang tentunya memberikan masukan-masukan di album kita, dan bagi kita itu tidak masalah karena yang memainkan musiknya itu adalah Twenty First Night bukan Maliq and d’essentials.

IS : Seberapa jauh peran Maliq and d’essentials di album Twenty First Night?

TFN : Perannya cukup jauh dan dari segi kreatif sudah pasti peran Widi sangat penting di album ini, karena dia mengeluarkan semua idenya di album ini sebagai produser, demikian juga seluruh personil Maliq and d’essentials ada perannya masing-masing di album ini.

IS : Menurut kalian apa sih yang membedakan band ini dengan band yang lain?

TFN : Kita rasa, energi yang kita tawarkan berbeda dengan band yang lain.

IS : Persiapan Twenty First Night menjelang Java Jazz 2009 bagaimana?

TFN : Pesiapan sudah dua minggu latihan dan memikirkan secara detail dan lebih konsen untuk membawakan lagu sendiri, karena pada tahun lalu kita tampil membawakan lagu orang lain, karena pada saat itu kita belum mempunyai album.

IS : Ada nggak sih keinginan untuk berkolaborasi di albumnya nanti?

TFN : Kita ingin banget berkolaborasi dengan band Slank, karena kagum dengan karakter suara Kaka. Untuk band luar negrinya kita pengen banget kolaborasi dengan Dave Mathews band.

IS : Merasa yakin nggak Genre musik kalian bisa diterima oleh masyarakat?

TFN : Kita tidak mengikuti selera pasar dalam proses pembuatan album, kita hanya berusaha jujur dalam berkarya dan saat ini dampaknya lumayan bagus dan kita mempunyai pasar tersendiri.

IS : Bagaimana cara manjaga kekompakan diband ini?

TFN : Komunikasi yang lancar, jalan-jalan bareng, dan menjaga ikatan kekeluargaan yang baik juga.

IS : Kenapa pemain bass kalian bergaya rambut mohawk, sedangkan kalian bukan band punk? 

TFN : Basis kita terinspirasi dari film jaman dulu yaitu The A-team, sebab esensi untuk terkenal adalah dengan cara dikenal dengan cara apapun, ya salah satunya adalah dengan gaya rambut mohawk ini.

IS : Yang banyak menulis lirik di album ini siapa sih?

TFN : Aryo dan Vicky, namun dalam prosesnya kita semuanya turut berperan.

IS : Ada rasa kompetisi nggak antara Twenty First Night dengan Maliq and d’essentials?

TFN : Kalo untuk kompetisi kita tetap ada, tapi kompetisi sehat, bagaimanapun jadinya nanti band ini, semua terjadi karena adanya jasa Maliq and d’essentials, yang pasti didiri kita nggak ada persaingan.

IS : Semua personil Twenty First Night memang fokus kemusik atau ada yang sambil bekerja?

TFN : Untuk saat ini kita semua total dimusik, dan nantinya kita tidak hanya sebatas ngeband saja, tetapi juga berusaha menyodorkan untuk memproduseri band-band baru.


IS : Twenty First Night setuju tidak dengan penjualan RBT/NSP?

TFN : Kita setuju aja dengan itu karena bisa menghasilkan jumlah yang cukup banyak, setidaknya RBT/NSP lebih baik dari pada pembajakan.

IS : Untuk saat ini promo masih tetap berjalan?

TFN : Iya,, masih tetap berjalan dikota-kota besar dan promo di sekolah-sekolah SMA di Jakarta. Biar tetap awet muda.


IS : Harapan Twenty First Night di album perdana ini?

TFN : Album kita bisa diterima masyarakat, dan bisa memiliki semangat kembali untuk terus berkarya di album berikutnya, serta bisa membawa kita ke pentas international.

IS : Merasa tertarik nggak bila ditawarin karir diluar musik seperti sinetron atau film misalnya?

TFN : Kita sih nggak ada masalah sinetron atau modelingpun kita lakonin dah.

Galeri Foto

Lagi Loading gambar. Tunggu Sebentar

◄ Kembali ◄                 Print                 Kirim Artikel


Isi Komentar Anda
User Name
Password
Komentar
Mak [600] Karakter
Register | Forgot Your Password?

 
Arsip           
 
Situs Resmi
 
Lainnya     
Biografi Seleb
 
Lainnya     
© 2009 Sarana Selebritisatu Netrada. Designed by Webindo